PKL Ngeluh, Massa Berkerumun di MK Tak Seramai saat 22 Mei

Jakarta
- Aksi unjuk rasa dengan pengerahan massa besar-besaran memang menyebalkan.
Namun siapa sangka beberapa orang justru menjadikan hal tersebut menjadi ladang
penghasilannya.
Seperti
beberapa pedagang kaki lima yang tiba-tiba buka lapak dadakan. Asih, Saidah,
dan beberapa lainnya mengharapkan aksi dengan pengerahan massa besar terjadi.
Namun,
kerumunan massa saja tidak cukup kalau tak ramai. Salah satunya yang terjadi di
dekat gedung MK hari ini, meskipun ada kumpulan massa, namun jumlahnya disebut
terlalu sedikit.
"Masih
biasa-biasa saja nih, cuma dikit massanya, nggak ramai. Kayaknya mah habis
salat Jumat ya ramainya ada lagi kali datang massanya," kata Asih kepada
detikFinance, Jumat (14/6/2019).
Asih
membandingkan kerumunan massa hari ini dengan massa saat Aksi Bawaslu 21-22
Mei. Menurutnya, saat itu dia bisa mendapatkan keuntungan hingga hampir Rp 1
juta, namun kini mungkin hanya Rp 500 ribu.
"Iya
lah yang 21-22 Mei seharinya saja bisa Rp 500 ribu lebih ya nyaris Rp 1 juta
sehari. Yah sekarang mentok-mentok Rp 500 ribu paling," kata Asih.
"Saya
sampai ambil stok kopi sachet di rumah," tambahnya.
Seperti
Asih, Saidah juga menyatakan hal yang sama, dagangannya lebih laku kalau
massanya banyak.
"Massa
doang emang nggak cukup, harus ramai juga. Ini sih seratusan orang doang
paling," kata Saidah.
Saidah
menyebutkan memang massa yang besar membuat repot semua orang. Namun, sebagai
pedagang menurutnya keuntungan salah satu hal utama.
"Namanya
jualan ya, untung ya yang utama, penghasilan saya kan dari sini. Ya emang
repotin orang kalau massanya ramai, cuma kan kita untung," kata Saidah.
[detik.com]
0 Response to "PKL Ngeluh, Massa Berkerumun di MK Tak Seramai saat 22 Mei"
Post a Comment