Viral, KPU Sebut Data Ganda DPT dari Tim Prabowo Seperti Amuba

Komisioner
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pramono Ubaid Tanthowi menyebut Daftar Pemilih
Tetap (DPT) ganda versi Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo
Subianto-Sandiaga Uno seperti amuba.
Pramono
menyebut dari 3.165.093 data yang dilaporkan BPN, hanya sebanyak 2.673.855 data
yang memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan Nomor Kartu Keluarga (NKK)
yang lengkap. Dari jumlah itu, sekitar 2,5 juta tidak ditemukan di DPT Pemilu
2019.
“Kita
terima laporan dari mereka, kita periksa by system, ditemukanlah bahwa
sebenarnya dari 2,6 juta sekian tadi 2,5 juta tadi itulah kayak amuba, membelah
diri membelah diri itu,” kata Pramono dalam jumpa pers di Kantor KPU, Jakarta,
Senin (15/4)
Pramono
menambahkan dari data tersebut ada 213.892 data terduplikasi. Pramono
mencontohkan data atas nama Nurhayati terduplikasi sebanyak 1.050 kali dan
Junaidi sebanyak 705 kali.
Sementara
terkait 17,5 juta data invalid yang dilaporkan BPN, Pramono memaparkan data itu
wajar. KPU telah berkoordinasi dengan Dukcapil Kemendagri dan ahli demografi
berbagai universitas.
KPU
juga turun ke lapangan untuk verifikasi faktual. Dari total sampel 1.604
pemilih, hanya empat orang atau 0,25 persen yang memiliki data tidak memenuhi
syarat.
“Jadi
17,5 juta, tuntutan yang mengada-ada karena faktual itu orangnya ada, 98,5
persen dari data itu ada,” ujar Pramono.
Sebelumnya,
BPN mendatangi KPU untuk melaporkan beberapa dokumen terkait data janggal di
DPT 2019. BPN menyebut 17,5 juta data invalid karena memiliki hari kelahiran
yang sama.
Lalu
ada 6,1 juta DPT ganda. Namun BPN hanya bisa menyerahkan 3,1 juta DPT diduga
ganda ke KPU.
Terkait
DPT janggal, Direktur Komunikasi dan Media BPN Prabowo-Sandi, Hashim
Djojohadikusumo, menyebut temuan itu didapat berdasarkan penyisiran Daftar
Pemilih Tetap Hasil Perbaikan Kedua (DPTHB2).
“Menurut
kami BPN tim IT kami masih ada masalah sejumlah nama kurang lebih 17 juta 500
ribu nama ya itu minimal. Itu namanya dianggap ganda bisa juga dinilai
invalid,” ujar Hashim saat ditemui di Kantor KPU, Jakarta, Senin (11/3).
BPN
mencatat ada 17.553.708 data pemilih mencurigakan. Adapun rinciannya, sebanyak
9.817.003 pemilih tercatat lahir pada tanggal 1 Juli, 5.377.401 lahir pada 31
Desember, dan 2.359.304 lahir di 1 Januari.
Hashim
menyampaikan berdasarkan analisis tim IT dan statistik BPN, data itu tidak
wajar.
“Pada
hari-hari lain, rata-rata yang lahir 520 ribu orang ya. Terus tiba-tiba 1 juli
9,8 juta, 2 Juli 520 ribu lagi. Ini kan kita anggap tidak wajar,” ucapnya.
(dhf/wis) (cnnindonesia/suaraislam)
0 Response to "Viral, KPU Sebut Data Ganda DPT dari Tim Prabowo Seperti Amuba"
Post a Comment