Gimik Sentilan dari Jokowi untuk Pemimpin Tak Berpengalaman

Jakarta,
-- Direktur Pusat Kajian Politik (Puskapol) FISIP UI, Aditya Perdana menganggap
pernyataan yang disampaikan capres petahan Jokowi soal memimpin bangsa harus
punya pengalaman adalah hal yang wajar kerap disampaikan calon petahana.
Pernyataan
Jokowi tersebut dianggap sebagai bagian dari gimik politik yang mendiferensiasi
dua kubu berbeda, yakni pihak yang punya rekam jejak maupun tidak.
"Ini
kampanye yang selalu berulang, gimik yang coba memengaruhi psikologis publik,
menggambarkan antara petahana dan bukan, serta berpengalaman di pemerintahan
atau tidak," kata Aditya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan
telepon, Senin (14/1).
Jokowi,
kata Aditya, mencoba memberikan pandangan kepada publik bahwa memimpin bangsa
harus punya rekam jejak dalam pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Secara
tidak langsung, Jokowi memberikan pesan bahwa kubu penantang tak memiliki
keuntungan tersebut.
"Sebab
kita tahu bahwa memimpin di kesatuan, seperti Kopassus tidak dapat dibandingkan
dengan riwayat kepemimpinan dalam pemerintahan," kata Aditya.
Kondisi
Pilpres 2019 menguntungkan Jokowi selaku petahana yang boleh dibilang
mendominasi pertarungan. Situasi akan berbeda pada Pilpres 2024, dimana
kontestan yang bertarung akan mempertemukan tokoh-tokoh baru tanpa
bayang-bayang petahan.
"Ya,
prediksi para kontestan Pilpres 2024 nanti adalah para calon-calon yang
berangkat dari daerah," kata Aditya.
Kendati
demikian, rekam jejak Prabowo di dunia politik bukan berarti tak dapat diperhitungkan.
Memimpin partai politik sekelas Partai Gerindra, kata Aditya, bisa jadi
gambaran utuh bahwa Prabowo mumpuni dalam berorganisasi.
Jokowi
menyinggung soal pemimpin berpengalaman saat menghadiri acara deklarasi
sejumlah alumni Universitas Indonesia (UI) di Plaza Tenggara Gelora Bung Karno,
Senayan.
Capres
nomor urut 01 itu bercerita soal pengalamannya selama memimpin dari tingkat
kota hingga nasional. Syarat menjadi seorang pemimpin menurutnya harus memiliki
pengalaman.
"Saya
ingin bercerita soal pengalaman. Karena yang namanya memimpin itu harus punya
yang namanya pengalaman," ujar Jokowi disambut sorak sorai para
pendukungnya.
Aditya
menganggap gaya komunikasi Jokowi belakangan ini lebih tertata dan tepat
sasaran menanggapi isu politik teraktual. Gaya komunikasi Jokowi dianggap cukup
efektif sebagai bentuk sentilan balasan.
"Jokowi
masih menggunakan gaya komunikasi yang defensif, menunggu respons dari kubu
lawan, kemudian menggunakan serangan balik yang cukup efektif. Bisa kita lihat
saat Jokowi menanggapi Ojek Online yang direndahkan, dan menanggapi Indonesia
bubar," kata Aditya.
Pakar
politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sudjito menilai bahwa
pernyataan Jokowi soal pengalaman di bidang pemerintahan, mutlak ingin
menunjukkan bahwa petahana punya banyak keunggulan.
"Jokowi
ingin menyampaikan pesannya bahwa ia memiliki leadership yang jauh lebih bagus
daripada calon lainnya," kata Arie, saat dihubungi, Senin (14/1).
Arie
menilai pesan yang disampaikan Jokowi akan ampuh membuka cara pandang
masyarakat memilih pemimpin, terlebih, belakangan ini Jokowi dinilainya
menggunakan gaya komunikasi yang lebih rapi, tertata dan menggunakan data.
"Berbeda
kemudian dengan narasi pesimisme yang disampaikan Prabowo, itu akan efektif
namun hanya untuk loyalisnya, terhadap publik justru kontraproduktif,"
jelasnya.
Sebelumnya,
di depan ribuan pengemudi ojek online, Jokowi menyatakan keprihatinan atas
gesekan horizontal setiap gelaran politik. Sebab itu, Jokowi berpendapat
Indonesia harus bijaksana memilih pemimpin, termasuk di Pilpres 2019.
"Jadi
lihat saja calonnya, punya pengalaman atau tidak," kata Jokowi, Sabtu
(12/1) di JIExpo Kemayoran, Jakarta. [CNN Indonesia]
0 Response to "Gimik Sentilan dari Jokowi untuk Pemimpin Tak Berpengalaman"
Post a Comment