Pengamat: 13 Tahun Gaya Berpolitik SBY Tak Berubah, Seolah-olah Terzalimi
JAKARTA,
Berita Pojok - Pengamat politik Ray Rangkuti mengaku prihatin dengan manuver
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjelang Pilkada
atau Pilpres. Ia menyebut gaya berpolitik SBY tak pernah berubah dari Pemilu
2004.
Hal
itu disampaikan Ray terkait pernyataan SBY yang menyebut BIN, TNI, dan Polri tidak netral di Pilkada.
"Saya
sangat prihatin dengan pernyataan prihatinnya SBY, karena pola beliau gak
berubah dari 13 tahun yang lalu, sejak 2004 ke 2009, 2009 ke 2014, ditambah
tahun ini, polanya sama," kata Ray di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat,
Senin (25/6/2018).
Maksud
Ray soal pola SBY yang tak pernah berubah, yakni selalu membuat pernyataan
seolah-olah menjadi orang yang terzalimi dengan mendramatisir sebuah persoalan
yang sebetulnya tak perlu dilakukan.
"Setiap
mendekati Pemilu, atau Pilkada, dimana dia merasa terlibat di dalamnya, polanya
selalu membuat pernyataan yang seolah-olah beliau sedang terzalimi dengan tentu
saja mendramatisasi sesuatu yang sebetulnya tidak perlu sejauh itu
dramatisasinya," ujarnya.
Direktur
Lingkar Madani (LIMA) ini menambahkan, hal tersebut dilakukan Presiden ke-6 itu
untuk mendongkrak suara dari calon yang diusung partainya dalam sebuah pesta
demokrasi.
"Sikap
dan perilaku politiknya SBY kok ga berubah-berubah, yang selalu menempatkan
dirinya sebagai yang terzalimi, yang sebenarnya tujuannya adalah untuk
mendongkrak suara dari pasangan yang didukung oleh yang bersangkutan,"
tandasnya.
Terkait
pernyataan SBY tentang lembaga negara yang netral di Pilkada, Ray menyebut,
seharusnya SBY jangan hanya membuat pernyataan tetapi mengambil langkah hukum
dengan melapor ke Bawaslu atau korps BIN, TNI, dan Polri.
"Kalau
beliau punya asumsi ada kecenderungan tidak netral baik itu TNI, Polri, dan
juga BIN, itu harusnya bukan hanya pernyataan sikap yang dilakukan oleh beliau.
Tapi segera melakukan langkah hukum," pungkasnya.
"Supaya
ada pendidikan politik. Jadi asumsi-asumsi jangan dibangun, tetapi harus
dibuktikan melalui jalur yang semestinya," tandas Direktur Lingkar Madani
(Lima) itu.
Pasalnya,
lanjut Ray, jika tokoh seperti SBY tidak berani membawa persoalan tersebut ke
ranah hukum, maka lebih sulit bagi publik untuk melaporkan
pelanggaran-pelanggaran yang ditemukan.
"Kalau
orang seperti Pak SBY saja takut berhadapan seperti itu, bagaimana kita
mendorong publik untuk melakukan peloporan terhadap semua bergai bentuk
pelanggaran," ungkap Ray.
Sebelumnya
diberitakan, pernyataan SBY tentang indikasi ketidaknetralan BIN, Polri dan TNI
di Pilkada serentak 2018 disampaikan dalam jumpa pers di Bogor, Jawa Barat,
Sabtu (23/6/2018).
SBY
kemudian membeberkan serangkaian dugaan kecurangan oleh BIN, Polri dan TNI di
pilkada sebelumnya, seperti di DKI Jakarta, Papua, Kalimantan Timur, Riau,
Maluku, Jawa Timur dan terakhir Jawa Barat.
Sumber
: netralnews.com
0 Response to "Pengamat: 13 Tahun Gaya Berpolitik SBY Tak Berubah, Seolah-olah Terzalimi"
Post a Comment