Angkat Bicara. Ustad Zulkifli Muhammad Ali Jadi Tersangka, SBY Marah.
Pojok
Berita - Susilo Bambang Yudhoyono berharap penegak hukum cermat melakukan
proses penanganan hukum. Penegak hukum diminta tidak gegabah memproses aduan
soal ceramah ulama.
"Negara,
pemerintah, penegak hukum jangan sedikit-sedikit mudah mengkriminalkan,
memanggil, seolah-olah (ceramah) itu dianggap kejahatan. Saya yakin masih bisa
tidak seperti itu, masih bisa menjalin hubungan baik," kata SBY dalam
sambutannya pada peringatan 50 tahun Pondok Pesantren Daar El-Qolam di Pasir
Gintung, Jayanti, Tangerang, Sabtu (20/1/2018).
Pemerintah
atau penegak hukum diminta duduk bersama dengan para ulama. SBY tak ingin
penegak hukum langsung memproses aduan soal isi ceramah tanpa dilakukannya
klarifikasi maksud dari isi ceramah.
"Menurut
saya para pendakwah, para ulama. Siapa pun yang sampaikan (ceramah) kepada umat
tahu batasnya. Selama itu tidak melanggar konstitusi dan UUD, konstitusi itu
ada human rights. Maka tidak boleh terlalu cepat (ceramah) itu dianggap
melanggar hukum. Tapi para ulama juga tahu batasnya, itu namanya you not cross
the line," imbuhnya.
SBY
mengaku kerap mendengar dugaan kriminalisasi terhadap ulama. Penegak hukum
diminta cermat dalam penanganan laporan agar tidak salah memproses hukum.
"Tentang
pemimpin umat, ini saya dengar katanya beberapa ulama atau kiai merasa mudah
sekali dikriminalisasi. Katanya begitu. Dianggap apa yang disampaikan itu
adalah ujaran kebencian, hate speech. Polisi turun, penegak hukum turun. Ini
kalau terus terjadi tidak baik. Tidak boleh terjadi di Indonesia, negara yang kita
cintai ini," tegas dia.
Sebelumnya
Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan tidak ada kriminalisasi terhadap
ulama.
Penegasan
ini disampaikan terkait penetapan tersangka Ustaz Zulkifli Muhammad Ali terkait
kasus dugaan SARA.
"Prinsipnya
sekali lagi, Polri tidak melakukan kriminalisasi ulama," ujar Tito, Jumat
(19/1/18).
Kapolri
menjelaskan istilah kriminalisasi digunakan bila polisi memaksakan pemidanaan
terhadap seseorang yang melakukan suatu tindakan yang tidak diatur dalam hukum
pidana.
"Tapi
kalau perbuatan itu diatur dalam hukum pidana, dilakukan proses, itu namanya
penegakan hukum," tegas Tito.
Susilo
Bambang Yudhoyono bicara mencermati kondisi pemerintah, penegak hukum dan para
ulama saat ini. Presiden RI keenam ini menyebut hubungan ketiga unsur tersebut
kurang harmonis.
"Hubungan
negara dengan pemimpin umat, bulan terakhir saya perhatikan ada ini, saya
ulangi, hubungan antara pemerintah, bahkan penegak hukum dengan pemimpin umat
ini ada masalah. Saya harus sampaikan dengan jujur. Saya harus sampaikan demi
kebaikan bangsa ini," kata SBY dalam peringatan 50 tahun Pondok Pesantren
Daar El-Qolam di Pasir Gintung, Jayanti, Tangerang, Sabtu (20/1/2018)
SBY
menyoroti isu kebinekaan, isu radikalisme dan isu toleransi yang berkembang
sejak tahun lalu. SBY meminta agar semua pihak tidak saling tuduh soal
pihak-pihak yang dianggap radikal atau tidak menghormati Pancasila.
"Kalau
ada (seperti dugaan itu), duduk bersama. Saling ingatkan, Anda kalau begitu
menyalahi Undang-Undang Dasar, Anda kalau seperti itu tidak menghormati
kebinekaan. Duduk bersama tujuannya menyatukan, jangan dipisahkan,"
sambungnya.
Sikap
saling curiga menurut SBY sangat berbahaya. Sikap tersebut malah membuat
benturan di masyarakat.
"Lebih
baik dibimbing, diingatkan, duduk bersama. Jangan bedakan Islam dan Pancasila.
Umat Islam itu mengakui UUD konsitusi kita. Kenapa dipisahkan," tutur SBY.
Selain
itu SBY juga mengaku kerap mendengar dugaan kriminalisasi terhadap ulama.
Penegak hukum diminta cermat dalam penanganan laporan agar tidak salah
memproses hukum.
"Tentang
pemimpin umat, ini saya dengar katanya beberapa ulama atau kiai merasa mudah
sekali dikriminalisasi. Katanya begitu. Dianggap apa yang disampaikan itu
adalah ujaran kebencian, hate speech. Polisi turun, penegak hukum turun. Ini
kalau terus terjadi tidak baik. Tidak boleh terjadi di Indonesia, negara yang
kita cintai ini," tegas dia.
Pemerintah
dan ulama menurut SBY harus bersatu. Pemerintah dan ulama tidak boleh
berjauhan, tapi harus bergandengan.
"Jadi
menurut saya semangatnya itu, sikapnya menjalin hubungan baik. Good relations
itu bukan hanya hubungan antar negara, antar bangsa tapi juga antar komponen
bangsa," kata dia
Sumber:
detik.com

Pak BY, kLo baru dengar ya tabayyun dikroscek. Jangan lalu bicara di publik atad dasar 'mendengar '. Jd pemimpin itu yg pinter mendamaikan, bukan malah nambah gaduh.
ReplyDelete